Senin, 01 Maret 2010

PENALARAN MAHASISWA TERHADAP KASUS BANK CENTURY

Beberapa bulan terakhir ini kita sering mendengar kasus Bank Century yang kini dibahas oleh Panitia Khusus (Pansus) Hak Angket Bank Century di DPR. Seperti yang kita ketahui bahwa Bank Century merupakan bank hasil merger dari beberapa bank, yaitu Bank Danpac, Bank Pikko, dan Bank CIC. “Bank Century merupakan bank gagal yang berdampak sistemik” begitu kira-kira yang dikatakan oleh Sri Mulyani, Menteri Keuangan sekaligus mantan Ketua Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK).

Menurut menteri keuangan Bank Century harus diberikan dana talangan atau bailout untuk mencegah terjadi krisis keuangan atau berdampak sistemik. Namun, dalam hal ini dana talangan sebesar Rp 6,7 trilyun dari Bank Indonesia disalahgunakan oleh Bos Bank Century, Robert Tantular. Dia terbukti mengalihkan dana talangan tersebut ke beberapa aset perusahaan fiktif miliknya. Jusuf Kalla, yang saat itu menjabat sebagai Wakil Presiden RI menganggap hal tersebut bukan sebagai penyelamatan tetapi sebagai sebuah perampokan.

Kasus Bank Century sangat rumit sehingga melibatkan banyak pihak. Seperti melibatkan Sri Mulyani (Menteri Keuangan/mantan Ketua KSSK), Boediono (mantan Gubernur BI/mantan Wakil Ketua KSSK) dan beberapa pejabat pemerintah. Kasus Bank Century adalah kasus besar karena telah merugikan keuangan negara trilyunan rupiah. Untuk itu Pansus Hak Angket Bank Century DPR dituntut untuk bekerja secara profesional untuk mengungkap skandal Bank Century.

Selain Pansus Bank Century, aparat penegak hukum lainnya juga harus ikut bekerja keras membongkar skandal tersebut, seperti BPK, KPK, Kepolisian, Kejaksaan, PPATK, dan lainnya. Lembaga-lembaga tersebut diharapkan dapat bersinergi untuk menyelesaikan kasus Bank Century yang telah membuat rakyat geram. Bagaimanapun juga dana talangan yang dikucurkan BI kepada Bank Century adalah uang rakyat. Jadi dalam hal ini rakyat juga merasa dirugikan. Lebih baik uang tersebut digunakan untuk bidang kesehatan, pendidikan, perbaikan sekolah, program pengentasan kemisikinan, atau program-program lain yang bermanfaat bagi kesejahteraan rakyat.

Banyak aksi protes yang menuntut diselesaikannya kasus Bank Century baik yang dilakukan oleh mahasiswa atau masyarakat. Gelombang unjuk rasa pun datang dari seluruh Indonesia yang menuntut diselesaikan kasus tersebut oleh Pansus Hak Angket Bank Century. Kita juga sebagai seorang mahasiswa tidak boleh berdiam diri saja. Diharapkan peran aktif kita sebagai mahasiswa seperti menyumbangkan pemikiran ilmiah dalam penyelesaian kasus tersebut.

Kita semua berharap agar Pansus Hak Angket Bank Century dapat menjalankan tugas dan amanahnya untuk mengungkap skandal Bank Century yang merugikan keuangan negara hingga trilyunan rupiah. Selain itu, hal tersebut merupakan sebagian langkah kongkrit dalam memberantas korupsi di negeri ini.

Minggu, 28 Februari 2010

Jenis-jenis kunci dalam dalam relation database

Menurut Codd, Tanggal, dan semua ahli, kunci hanya memiliki satu makna dalam teori relasional: itu adalah kumpulan dari satu atau lebih kolom yang nilai-nilai gabungan unik di antara semua kejadian dalam tabel tertentu. Utama adalah sarana relasional menetapkan keunikan. Kunci adalah satu atau lebih atribut yang menentukan atribut lainnya atau antara atribut lain saling berkaitan.

            Dalam metode relasional kunci terdapat 6 jennis kunci yaitu :

1)      Super Key adalah atribut yang memiliki satu atau lebih yang dapat membedakan atau mengidentifikasi setiap baris data dalam tabel secara unik.

2)      Candidate Key adalah salah satu rangkaian yang mempunyai nilai unik untuk membedakan atau mengidentifikasi  nilai-nilai kombinasi yang unik diantara semua kejadian yang spesifik dari entetitas.

3)      Primary Key adalah sebuah atribut yang dapat mengidentifikasi semua atribut.

4)      Foreign key adalah atribut atau kombinasi yang menjadi kunci utama yang nilai-nilainya harus sesuai dengan Primary key.

5)      Alternate Key adalah key yang tidak terpilih atau tidak dipakai oleh primary key. Menurut (Date95) (halaman 115), "... persis salah satu candidate key [is] dipilih sebagai primary key [dan] sisanya, jika ada, yang kemudian disebut sebagai kunci alternatif." 

6)      Composite key adalah gabungan dua kunci atau lebih yang dapat mengidentifikasi sebuah tupelo.

7)       Sekunder key adalah sebuah atribut atau kombinasi yang digunakan hanya untuk tujuan pengambilan data.

Sumber :

1).http://translate.google.co.id/translate?hl=id&langpair=en|id&u=http://databasemanagement.wikia.com/wiki/Relational_Database:_Keys

2).http://translate.google.co.id/translate?hl=id&langpair=en|id&u=http://www.aisintl.com/case/relational_keys.html

3).http://ardni-myblog.blogspot.com/2010/02/jenis-jenis-kunci-relasional.html

Sabtu, 20 Februari 2010

Model INTEGRASI BERBAGAI SISTEM INFORMASI DENGAN DATABASE PENDUDUK

Kehadiran teknologi informasi dan komunikasi (TIK) diyakini oleh banyak pihak sebagai salah satu hasil karya cipta teknologi penting yang banyak memberikan manfaat bagi kehidupan manusia. Hingga saat ini, sudah banyak upaya pemanfaatan TIK yang dilakukan oleh perorangan, instansi pemerintah, maupun swasta, yaitu dengan mengembangkan system informasi Berbasis Komputer/SIBK(Computer Based Information Systems/CBIS), baik pada lingkup sistem yang sempit dan terbatas pada sebuah organisasi, nasional, regional, bahkan internasional/global. Pada kenyataannya, data base yang digunakan di dalam SIBK, sebagian besar akan melibatkan data-data yang terkait dengan identitas penduduk. Dan, setiap SIBK yang dikembangkan akan selalu dilengkapi dengan suatu database yang sesuai dengan tujuan SIBK sehingga bersifat sektoral. Permasalahan yang dihadapi adalah terjadinya redudansi data identitas penduduk pada banyak SIBK akan mengakibatkan banyak versi database tentang identitas penduduk yang menjadi potensi pada inkonsistensi data identitas penduduk, sehingga mengakibatkan banyak versi informasi dan tidak akurat. Terkaitd dengan adanya master plan pengembangan sistem informasi kependudukan dan penggunaan Single Identity Number (SIN) di Indonesia, maka dimungkinkan adanya integrasi antar SIBK dengan memanfaatkan database penduduk yang dikembangkan oleh Pemerintah dan sekaligus menghindari terjadinya inkonsistensi data identitas penduduk. Sebuah model integrasi antar SIBK dan penggunaan database penduduk secara bersama-sama dapat dikembangkan, dengan menambahkan suatu kunci penghubung antar database. Kunci penghubung yang digunakan tersebut harus memenuhi sifat unik, standar, lengkap, permanen, dan terintegrasi dapat dipenuhi oleh SIN.

            Model data tersendiri yaitu sekumpulan konsep-konsep untuk menerangkan data, hubungan-hubungan antara data dan batasan-batasan data yang terintegrasi di dalam suatu organisai. Model data terdiri dari

            1. Model data berbasis objek

2. Model data berbasis record

3.model data berbasis fisik

4.Model data berbasis konseptual

 

Sumber : 

1. http://id.shvoong.com/internet-and-technologies/universities-research-institutions/1950243-model-integrasi-berbagai-sistem-informasi/

2.http://74.125.153.132/search?q=cache:gzO_9u5h2h8J:iwayan.info/Lecture/PengtDBase_S2/BAB-2.doc+model+data+berbasis+objek&cd=8&hl=id&ct=clnk&gl=id

 

Kamis, 31 Desember 2009

Faktor Budaya Sebagai Faktor Penentu Perilaku Konsumen

Konsumen adalah individu yang mempunyai warna tersendiri tiap-tiap individunya, sebagai pemasar kita perlu memahami konsep pemikiran mereka dengan mereka faktor yang mempengaruhi konsumen, seperti faktor -faktor kebudayaan.


Faktor-faktor kebudayaan berpengaruh luas dan mendalam terhadap perilaku konsumen. Kita akan membahas peranan yang dimainkan oleh kebudayaan, sub budaya, dan kelas sosial pembeli.


Kebudayaan

Adalah faktor penentu keinginan dan perilaku seseorang yang paling mendasar. Jika makhluk yang lebih rendah perilakunya sebagian besar diatur oleh naluri, maka perilaku manusia sebagian besar adalah dipelajari.

Anak yang dibesarkan dalam sebuah masyarakat mempelajari seperangkat nilai dasar, persepsi, preferensi, dan perilaku melalui sebuah proses sosialisasi yang melibatkan keluarga dan berbagai lembaga penting lainnya. Karena itu, seseorang anak yang dibesarkan dalam kebudayaan tertentu akan mempunyai nilai-nilai kebudayaan tertentu pula (seperti nilai prestasi dan keberhasilan, aktivitas, efisiensi, dan kepraktisan, kemajuan, kenyataan, kenyamanan material, individualisme, kebebasan, kenikmatan eksternal, kemanusiaan dan sikap serta jiwa muda).


Sub Budaya

Setiap budaya mempunyai kelompok-kelompok sub budaya yang lebih kecil yang merupakan identifikasi dan sosialisasi yang khas untuk perilaku anggotanya.


Kelas Sosial

Sebenarnya, semua masyarakat manusia menampilkan lapisan-lapisan sosial. Lapisan-lapisan sosial ini kadang-kadang berupa sebuah sistem kasta dimana para anggota kasta yang berbeda memikul peranan tertentu dan mereka tak dapat mengubah keanggotaan kastanya. Malah lebih sering lapisan sosial itu berbentuk kelas sosial. Kelas sosial adalah sebentuk kelompok yang relatif homogen dan bertahan lama dalam sebuah masyarakat yang tersusun dalam sebuah urutan jenjang dan para anggota dalam setiap jenjang itu memiliki nilai, minat dan tingkah laku sama.


Sumber:

http://share.ciputra.ac.id/



Definisi Perilaku Konsumen

Perilaku Konsumen adalah perilaku yang konsumen tunjukkan dalam mencari, menukar, menggunakan, menilai, mengatur barang atau jasa yang mereka anggap akan memuaskan kebutuhan mereka.

Definisi lainnya adalah bagaimana konsumen mau mengeluarkan sumber dayanya yang terbatas seperti uang, waktu, tenaga untuk mendapatkan barang atau jasa yang diinginkan.

Analisis tentang berbagai faktor yang berdampak pada perilaku konsumen menjadi dasar dalam pengembangan strategi pemasaran. Ya, pemasar wajib memahami konsumen, seperti apa yang dibutuhkan, apa seleranya, dan bagaimana konsumen mengambil keputusan.

Alasan mempelajari perilaku konsumen antara lain :

1. Analisis ini akan membantu para manajer untuk :

a. Mendesain bauran pemasaran
b. Mensegmen pasar bisnis
c. Memposisikan dan mendiferensiasikan produk
d. Melaksanakan analisis lingkungan
e. Mengembangkan studi riset pasar

2. Perilaku konsumen harus memainkan peranan yang penting dalam pengembangan kebijakan publik

3. Studi terhadap hal ini akan memungkinkan seseorang menjadi konsumen yang lebih efektif

4. Analisis konsumen memberikan pengetahuan menyeluruh tentang perilaku manusia

5. Studi perilaku konsumen juga memberikan tiga jenis informasi :

a. Orientasi Konsumen
b. Fakta-fakta tentang perilaku manusia
c. Teori-teori yang menjadi pedoman proses pemikiran

Terkait dengan perilaku konsumen, maka terkait pula dengan prinsip 5W+1H :

  • Why : Mengapa mendapatkan barang/jasa tersebut ?
  • What : Berupa apa barang/jasa tersebut ?
  • Who : Siapa yang mendapatkan barang/jasa itu ?
  • When : Kapan bisa didapatkan barang/jasa tersebut ?
  • Where : Dimana barang/jasa tersebut bisa didapatkan ?
  • How : Bagaimana barang/jasa tersebut didapatkan ?
Menurut James F. Engel - Roger D. Blackwell - Paul W. Miniard dalam Saladin terdapat tiga faktor yang mempengaruhinya, yaitu :
  • Pengaruh lingkungan, terdiri dari budaya, kelas sosial, keluarga dan situasi. Sebagai dasar utama perilaku konsumen adalah memahami pengaruh lingkungan yang membentuk atau menghambat individu dalam mengambil keputusan berkonsumsi mereka. Konsumen hidup dalam lingkungan yang kompleks, dimana perilaku keputusan mereka dipengaruhi oleh keempat faktor tersebut diatas.
  • Perbedaan dan pengaruh individu, terdiri dari motivasi dan keterlibatan, pengetahuan, sikap, kepribadian, gaya hidup, dan demografi. Perbedaan individu merupkan faktor internal (interpersonal) yang menggerakkan serta mempengaruhi perilaku. Kelima faktor tersebut akan memperluas pengaruh perilaku konsumen dalam proses keputusannya.
  • Proses psikologis, terdiri dari pengolahan informasi, pembelajaran, perubahan sikap dan perilaku. Ketiga faktor tersebut menambah minat utama dari penelitian konsumen sebagai faktor yang turut mempengaruhi perilaku konsumen dalam penambilan keputusan pembelian.
Sumber:
http://www.anneahira.com/

Krisis Ubah Perilaku Konsumen

Krisis keuangan global mungkin telah memaksa banyak orang menunda liburan impiannya. Namun, konsumen rupanya masih mau membelanjakan uang untuk barang yang dianggap penting, yaitu produk kecantikan dan perawatan kesehatan.

Sebuah survei internasional oleh perusahaan riset pasar, Synovate, memperlihatkan pengeluaran untuk kosmetik dan perawatan kesehatan tampaknya tetap bertahan. Padahal, merosotnya perekonomian belakangan ini telah mengubah perilaku konsumen di seluruh dunia.

Survei itu menemukan, 41 persen orang merencanakan membelanjakan jumlah yang sama untuk kosmetik, seperti sebelum mulainya krisis ini. Hanya 27 persen yang mengatakan mereka akan mengurangi pengeluaran.

Sementara untuk produk-produk perawatan kesehatan, 55 persen responden mengatakan mereka akan membelanjakan jumlah yang sama. Hanya hanya 17 persen yang akan mengurangi pengeluaran.

Survei itu menanyai 11.500 orang di belasan negara, termasuk Brasil, Yunani, Meksiko, Belanda, Rusia, Inggris, dan AS.

Walau ada prakiraan ekonomi yang suram di negara mereka, responden dari Denmark, Brasil, dan Malaysia merupakan yang paling optimistis mengenai kekuatan perekonomian mereka. Adapun mereka yang dari AS dan Inggris adalah responden yang paling pesimistis.

AS telah terjebak dalam resesi ekonomi. Sementara data bulan Desember memperlihatkan Inggris bergerak mendekat ke resesi. Krisis ekonomi dunia muncul sejak tahun lalu, berawal dari krisis sektor perumahan AS yang kemudian memukul pasar keuangan global dan mengimbas ke perekonomian dunia.

Secara keseluruhan, konsumen di banyak negara mengatakan mereka mengurangi pengeluaran uang untuk barang- barang mewah.

Hanya 10 persen dari responden di Brasil yang mengakui akan membelanjakan lebih banyak untuk barang mewah. Sementara 49 persen penduduk Hongkong dan 72 persen warga Denmark mengatakan, pengeluaran mereka untuk barang-barang mewah akan tetap sama.

Lebih banyak konsumen, terutama di Brasil, Inggris, Perancis, Yunani, dan AS, mengatakan, mereka akan lebih ketat melihat harga sebelum berani melakukan transaksi.

Namun, banyak pembeli di Malaysia, Taiwan, dan Hongkong yang mengatakan mereka tidak terlalu memerhatikan harga barang sebelum membeli.

Kini, membeli tanpa perencanaan menjadi cerita lalu. Tak ada lagi pembeli yang membeli hanya karena suasana hati. Ini yang dungkapkan sekitar 82 persen orang Amerika, 76 persen orang Inggris, 78 persen orang Belgia, dan 70 persen orang Perancis.

Namun, 55 persen orang Hongkong dan 72 persen orang Denmark mengatakan membeli secara impulsif dalam jumlah yang sama seperti sebelumnya.

Berlibur dan barang-barang bermerek merupakan yang hal pertama yang harus dikorbankan kala anggaran keluarga dipotong. Namun, pilihan-pilihan ini berbeda di seluruh dunia.

Bagi orang Amerika dan Yunani, makan di restoran bersama keluarga dan teman adalah hal pertama yang dicoret. Sementara orang Romania menunda membeli alat-alat berteknologi tinggi.

Orang Serbia memilih mengorbankan liburan, tetapi 81 persen orang Denmark menyebut tak ada yang mereka korbankan.

Sumber:
http://www.artikel-indonesia.co.cc/

Persepsi Konsumen

Pengertian :
Proses di mana individu memilih, mengorganisasikan dan mengintrepretasikan stimuli tertentu menjadi sesuatu yang bermakna (Schiffman & Kanuk, 2004).

Persepsi Konsumen terhadap Resiko Membeli
1. Resiko Keuangan (terutama yang daya belinya menengah ke bawah)
2. Resiko Kinerja Produk / Jasa yang dibeli
3. Resiko Psikologis (misanya gengsi atau setelah membeli jadi kecanduan)
4. Resiko Fisiologis (kesehatan)
5. Resiko Sosial (penerimaan sosia / keluarga setelah beli produk tsb)
6. Resiko Waktu (waktu yang dipakai terkait dengan pembelian produk tsb & sesudahnya)
Hal ini juga dipengaruhi oleh tipe kepribadian dan budaya konsumen serta jenis barang yang dibeli.

Cara Mengatasi (memperkecil) Resiko yang Biasa dilakukan oleh Konsumen
1. Mencari informasi
2. Membeli produk yang bergaransi
3. Loyal terhadap merk
4. Pilih yang Citra Merknya Baik
5. Pilih Tokoh yang Terpercaya
6. Pilih Produk yang Harganya lebih Mahal
Berdasarkan cara-cara yang biasa digunakan tersebut, maka muncul strategi pemasaran untuk mengatasi (memperkecil) resiko tersebut, misalnya menyediakan informasi yang lengkap, garansi, costumer service, kesempatan untuk mencoba, after sales service & repairation, dsb.

Persepsi Terhadap Kualitas
Dimensi layanan kualitas (Tutik Suryani, dkk., 2007)
a. Reliabilitas : kekonsistenan terhadap janji, misalnya jam buka & tutup, janji reward
b. Ketanggapan : kecepatan dalam melayani atau merespon komplain
c. Kompetensi : kemampuan dan ketramilan dalam menyajikan produk / jasa
d. Akses : kemudahan konsumen dalam menjumpai pimpinan atau staf dari perusahaan
e. Kesopanan : sopan santun dalam pelayanan yag diberikan
f. Kemampuan Berkomunikasi : kemampuan staf dalam bertanya atau menjawab konsumen secara tepat
g. Kredibilitas : terkait dengan kejujuran yang memunculkan kepercayaan konsumen
h. Keamanan : cukup mutlak dalam segala jenis usaha
i. Lokasi, gedung, sarana-prasarana : ikut mempengaruhi persepsi konsumen terhadap kualitas

Sumber:
http://share.ciputra.ac.id/